Minggu, 09 Juni 2013

AYO BUDAYAKAN SEPEDA DI KOTA BUDAYA [1]



Jogja dulu, sekitar tahun 1970an hingga tahun 1990an dikenal sebagai kota sepeda. Berbagai macam aktivitas dan profesi warganya menggunakan moda transportasi sepeda. Mobilitas pelajar, simbok-simbok ke pasar, mahasiswa, ke kantor dsb mayoritas menggunakan kendaraan yang bebas polusi dan tanpa bahan bakar ini.
Tua-muda, kaya miskin, rakyat-ningrat tidak sungkan untuk bersepeda. Bahkan dapat dikatakan sepeda mampu meniadakan strata sosial pemakainya. Karena semua lapisan masyarakat numpak sepeda. Idiom alon-alon waton klakon pun merujuk pada budaya masyarakat Jawa yang senang untuk berjalan kaki dan bersepeda dalam mobilitasnya.
Lihatlah foto dibawah ini. Wajah Malioboro yang disibukkan dengan lalu lintas sepeda. Penggemar sepeda tentu sangat nyaman dan santai dengan lalu lintas yang longgar dan welcome dengan pengendara sepeda.
 


Namun budaya itu lambat laun semakin pudar seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat dan semakin mudahnya mendapatkan kredit kendaraan roda dua. Berbagai macam merek kuda jepang menyerbu jalanan Jogja, bahkan pun semakin menggeser posisi sepeda dan menjadi raja di jalan raya.
Padahal secara kontur dan tipologi alam, Jogja sangat pas untuk jenis moda tanpa bahan bakar ini. Jalan-jalan yang sempit dan pendek, jumlah penduduk yang padat, serta luas wilayah yang kecil sangat mungkin dilalui dengan bersepeda. Kota jogja kecil hanya memiliki luas 32,5 km2, dengan bentangan tengah paling panjang 7,5 km dan paling pendek 5,5 km. Kontur tanah yang datar dan merata disemua wilayah kota semakin menambah keasyikan menggunakan bersepeda. Tetep iso kemringet tapi ra ngganggo pegel-pegel banget lahh..



Yang masih megeli tentu karena dengan perkembangan transportasi saat ini, pecinta sepeda harus bersaing dengan berbagai macam moda yang lain, yang biasanya lebih cepet dan cenderung abai dengan hak pengguna sepeda. Apalagi sebagian besar badan jalan di Jogja yang sempit sehingga pesepeda harus siap bersaing berebut jalur jalan.
[bersambung]

0 komentar:

Poskan Komentar